saat tangan Nya mulai merebut senja
gelap
kilau merah emas sang surya hilang
tanpa bekas
di tengah kehampaan malam yang meraja
menguasa
dingin
malam memuncak, dengan sejuta ragu
putih abu-abu
huhhhhh
malam menampar ku
terlalu indah untuk ku tanpa hadir mu dalam langkah ku
terlalu berharga hari untuk ku tanpa gengam tangan mu
aku terpuruk
jatuh
jauh
dalam denting kebisuan
dalam...
di sudut putih abu-abu
saat sadar abu-abu menujam mimpi
saat nyata putih tak mendamping
muncul
seribu putih abu-abu
aku bagai biola tak berdawai
sendiri
terdiam
dan menunggu sang angin membawa dawai
malam masih menyiksa ku
dalam bayang nyata putih abu-abu
sakit
menyiksa sadar ku
sadar ku
terlalu pahit untuk ku rasa badai tanpa kuat pegang ku pada mu
terlalu perih jarum waktu untuk ku lewati tanpa kuat bahu mu untuk topang ku
aku lemah tanpa mu
masih
dalam siksa malam
aku, berharap mengalah nyata
dalam bisik nada mati
dalam alun sepi malam
aku berharap, tangan Mu tuhanku
balikan senja ku, balikan merah emas sang surya ku
aku berahrap
tangan Mu tuhan ku
mainkan biola tak berdawai itu
dalam alun indah persahabatan
aku berharap, pada tanngan Mu
tuhan ku